BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner

Fenomena Merasa Bijak "Tuan Paling Tahu": Ingin Diakui Benar dan Didengarkan

 


Onenewsindonesia.top - Di balik sikap seseorang yang tidak mau kalah dalam argumen, biasanya terdapat ego yang rapuh. Bagi mereka, mengakui kesalahan dianggap sebagai kekalahan telak atau ancaman terhadap harga diri. Fenomena ini sering disebut sebagai Confirmation Bias, di mana seseorang hanya mencari informasi yang mendukung pendapatnya dan menutup mata pada fakta yang menyanggahnya.

​Ciri-ciri Utamanya:

1. ​Interupsi Kronis: Memotong pembicaraan orang lain karena menganggap apa yang akan dikatakannya jauh lebih penting.

​Minim Empati: Kesulitan melihat perspektif dari sudut pandang orang lain.

2. ​Nada Defensif: Langsung menyerang atau membela diri saat diberi kritik, sekecil apa pun itu.

3. ​Validasi Eksternal: Rasa percaya dirinya sangat bergantung pada pengakuan orang lain bahwa ia "benar".

​Jika dibiarkan, sifat ini bertindak seperti racun yang perlahan mematikan relasi. Berikut adalah dampaknya:

1. ​Isolasi Sosial: Orang-orang akan mulai menjauh karena merasa tidak dihargai atau lelah berdebat.

2. ​Stagnasi Diri: Karena merasa sudah benar, mereka berhenti belajar dan bertumbuh. Ilmu baru tidak bisa masuk ke dalam gelas yang sudah penuh.

3. ​Konflik yang Berlarut: Masalah kecil menjadi besar karena tidak ada ruang untuk kompromi atau kata "maaf".

​"Bijak bukan berarti tidak pernah salah, tapi bijak adalah kemampuan untuk mendengarkan saat orang lain menunjukkan letak kesalahan kita."

​Cara Menghadapi (Atau Memperbaiki) Sifat Ini

​Jika Anda merasa memiliki kecenderungan ini, atau sedang menghadapi seseorang dengan sifat tersebut, berikut langkah yang bisa diambil:

​1. Praktikkan Active Listening (Mendengar Aktif)

​Mendengarlah untuk memahami, bukan untuk menjawab. Cobalah untuk menunggu 3 detik setelah orang lain selesai bicara sebelum Anda merespons.

​2. Sadari bahwa Kebenaran itu Relatif

​Dalam banyak hal, kebenaran memiliki banyak sisi. Apa yang benar bagi Anda belum tentu benar bagi orang lain berdasarkan pengalaman hidup yang berbeda.

​3. Tanyakan "Kenapa?" Sebelum Membantah

​Alih-alih berkata "Kamu salah," cobalah bertanya, "Bisa jelaskan kenapa kamu berpikir begitu?" Ini membuka ruang dialog alih-alih konfrontasi.

​4. Menurunkan Ego

​Ingatlah bahwa menjadi "benar" tidak selalu berarti Anda "menang". Terkadang, menjaga kedamaian dan hubungan jauh lebih berharga daripada memenangkan sebuah argumen.

​Sifat ingin selalu didengarkan adalah bentuk kehausan akan eksistensi, namun cara terbaik untuk benar-benar "didengar" adalah dengan memberikan telinga kita terlebih dahulu kepada orang lain.

(RYP)

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.onenewsindonesia.top, Terima kasih telah berkunjung, selamat membaca, tertanda Pemimpin Redaksi: Fitrya Sari